Program Peremajaan Sawit Digulirkan

JAKARTA (SK) – De­puti I Bidang Kedaulatan Ma­ritim, Arief Havas Oegroseno mengatakan, program peremajaan lahan kebun sawit untuk tahun 2016 sudah mu­lai bergulir dan dananya sudah digelontorkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Peremajan lahan kebun sawit ini sangat penting un­tuk mempertahankan mutu sawit Indonesia, sehingga te­tap terjaga sebagai yang terbaik.

Diakuinya, peremajaan ini sangat penting dilakukan bagi kebun sawit yang sudah memasuki usia tua. Khusus, bagi petani sawit, katanya, ke­butuhan pendanaan un­tuk kegiatan peremajaan sa­ngatlah diperlukan. Sebab, se­kali meremajakan lahan sa­tu hektare memerlukan da­na antara Rp 35 hingga 40 juta.

“Jadi, kalau satu petani mempunyai dua hektare, artinya dana yang diperlukan mencapai Rp 80 juta. Ini belum termasuk biaya hidup mereka yang selama tiga ta­hun tanpa penghasilan te­tap, karena menunggu masa rep­lan­ting selesai,” ujar Arief, sa­at jadi pembicara pada Focus Group Discussion (FGD) War­tawan Maritim, di kantor Kementerian Koordinator Bi­dang Kemaritiman dan Sum­berdaya, Jakarta, Senin, (11/4) lalu.

Pada sisi lain, Arief Havas Oegroseno mengatakan, saat ini Indonesia dan Malaysia menginisiasi pembentukan Dewan Negara-Negara Peng­hasil Minyak Sawit (Council of Palm Oil Coun­tries/ CPOPC).

Menurutnya, kedua ne­ga­ra ini menguasai 85 persen supply minyak sawit di dunia dan diperlukan kerjasama membentuk organisasi guna melindungi petani sawit di ke­dua negara bahkan di dunia.

Dia menuturkan, ada kriteria yang ditetapkan untuk negara lain bisa masuk da­lam CPOPC. Pertama, memiliki luas areal lahan perke­bun­an sawit, minimal pro­duk­si, dan kewajiban peng­gu­naan pupuk ramah ling­kung­an dalam penanaman sawit.

“Kita enggak bisa sebut­kan negara mana saja yang akan menjadi anggota, karena masih berunding. Tapi ada 9-10 negara dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang masuk dalam kriteria menjadi anggota CPOPC,” ujarnya menambahkan. (gan)

Sumber : Suara Karya.id

No Comments

Post A Comment