Pertanian Organik Bisa Tingkatkan Kesejahteraan Hidup Petani

Pertanian organik dinilai bisa menjadi salah satu potensi yang bisa meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup para petani dan keluarganya.

Founder and Director Sunria, Emily Sutanto mengatakan petani kecil di Indonesia bisa mengirim produk lokal berkualitas ke luar negeri alias go international.

Bahkan dari produk pertanian petani kecil di desa bisa membangun rumah dan menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.

 

“Uang hasil penjualannya malah bisa menyekolahkan anak perempuan sampai lulus universitas dan mereka ada yang sampai bangun rumah impian. Ada video kisah nyata petani yang sampai bangun rumah impian istri,” ujar Emily saat berbincang dengan Tribunnews, Rabu(17/2/2021).

Kata Emily para petani kecil di desa-desa tidak kebingungan lagi untuk memasarkan produk-produknya apabila yang ditanam adalah tanaman organik.

Mereka juga tidak mendapatkan tekanan dari para tengkulak.

Emily menjelaskan hasil pertanian organik yang diekspor bukan sembarang organik, tapi organik bersertifikat.

Kata ”bersertifikat” sekadar membedakan produk beras organik ini dengan beras ”organik” yang ada di pasaran, tetapi sesungguhnya tak mengikuti standar produksi beras organik.

Sertifikat hasil pertanian organik dikeluarkan Institute for Marketcology, lembaga sertifikasi organik internasional, berbasis di Swiss, yang terakreditasi mendunia.

Logo sertifikat yang dikeluarkan pun tak tanggung-tanggung, langsung untuk tiga negara, yakni AS dengan US Department of Agricultural National Organic Program, Uni Eropa, dan Jepang dengan Japanese Agricultural Standard.

Emily menjelaskan hasil pertanian organik yang diekspor bukan sembarang organik, tapi organik bersertifikat.

Kata ”bersertifikat” sekadar membedakan produk beras organik ini dengan beras ”organik” yang ada di pasaran, tetapi sesungguhnya tak mengikuti standar produksi beras organik.

Sertifikat hasil pertanian organik dikeluarkan Institute for Marketcology, lembaga sertifikasi organik internasional, berbasis di Swiss, yang terakreditasi mendunia.

Logo sertifikat yang dikeluarkan pun tak tanggung-tanggung, langsung untuk tiga negara, yakni AS dengan US Department of Agricultural National Organic Program, Uni Eropa, dan Jepang dengan Japanese Agricultural Standard.

Dengan kata lain, hasil pertanian organik itu sudah mendapatkan ‘visa’ untuk masuk ke negara-negara yang paling ketat memberlakukan sistem keamanan pangannya di dunia.

“Bagaimana petani kita bisa lulus standar organik internasional, standar Eropa, AS dan Jepang. Ini paling ketat di seluruh dunia dengan tiga sertifikat kita bisa keliling dunia.”

“Petani Indonesia sekarang bisa memiliki tiga sertifikat ini dan aku bina sudah bertahun-tahun. Ada juga sertifikat perdagangan adil. Fair Trade, ini HAM petani terjaga, pendapatannya lebih, kita tidak menggunakan buruh anak, jaminan sosial ke petani. Sebagian penjualan untuk fund bikin sesuatu yang sifatnya sosial seperti membuat bank sampah,” ujar Emily.

 

Emily menargetkan ada 10.000 petani di Indonesia yang nantinya bisa bersertifikat internasional, agar mereka tidak kebingungan memasarkan produk lokalnya.

“Kita mau merangkul 10 ribu petani satu petani rata-rata di keluarganya ada lima orang kita sudah bisa mengubah hidup 50 ribu. Challenge besar untuk kita saat ini adalah untuk sertifikasi setiap tahun standarnya meningkat dan pengetahuan yang harus kita upgrade juga banyak,” ujar Emily.

Sebagai Founder Sunria, Emily sekelumit menceritakan mengenai awal mula ia terjun ke dunia pertanian organik.

Diawali dari petani beras organik di Wonogiri, Jawa Tengah, mereka bisa menghasilkan jenis beras organik bernama ‘Volcano Rice’ yang berbeda dengan yang lain karena banyak mengandung mineral seperti zinc dan magnesium.

Selain beras ada juga garam laut yang diliwet dengan bambu, serta gula aren.

“Khusus garam laut yang diliwet dengan bambu ini unik, karena garam ini bisa mengeluarkan rasa pada makanan. Misal kita taruh di steak yang biasa, dengan ditaburi garam ini steaknya bisa menjadi rasa steak premium, jadi mengeluarkan rasa yang lebih enak,” kata Emily.

Ketika ditanya berapa rata-rata usia petani yang sudah menjadi mitra dari Sunria dan memasarkan produk lokal ke luar negeri, Emily menyebut sebagian besar petani usianya di bawah 45 tahun.

“Ini menarik sekali di Wonogiri dikelola anak muda, 60 persen petani di bawah usia 45 tahun, petani itu kan muda jadi disana itu anak-anak muda ngajarin anak petni merangkul anak petani,” kata Emily.

Produk-produk organik hasil petani lokal tersebut juga sudah diekspor ke beberapa negara. Di Asia sudah merambah masuk ke Singapura dan Malaysia. Pasar Eropa sudah ada di Jerman, Italia dan Perancis.

Sementara di benua Amerika produk-produk petani lokal yang mayoritas berasal dari pulau Jawa sudah ada di Negeri Paman Sam.

Sekarang menurut Emily sudah ada 600 petani organik di Jawa yang sudah bersertifikat dan produknya go internasional.

Sunria lanjut Emily juga bekerjasama dengan PT Delisari Nusantara dalam hal mengembangkan market dan pemasaran.

Delisari juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani juga.

Produk Sunria di antaranya seperti volcano rice, rainforest rice, garam dan gula aren, serta sayuran organik seperti vanilla bean.

Cakupan area Delisari pun juga sudah taraf nasional.

Khusus untuk sayuran organik Delisari memasarkan lewat jalur disitribusinya yang mencakup area Jawa dan Bali.

Sebelumnya, Sunria memang memasarkan produknya sendiri. Kerjasama dengan Delisari dilakukan untuk mengembangkan pasar yang ada di seluruh wilayah Indonesia.

“Jadi kita bermitra dengan kelompok tani atau asosiasi juga yang sudah menanam organik, bagaimana petani kita bisa naik kelas, bisa menjual ke seluruh dunia kita yang akan training, kita partnership jadi rekan, mitra kerja, produksi kita arahin, biar produk mereka enggak direject. Kita bina mereka semua, kemasannya, semua dibikin petani, kita membina petani, dari ujung sampai hilir, mereka bisa menyediakan produk,” kata Emily.

Sekadar diketahui, Emily merintis dan membantu petani kecil di Indonesia berawal dari rasa kemanusiaan karena banyak petani yang tidak bisa mendapat harga yang layak dan ditekan tengkulak.

Ia juga sangat senang dengan produk organik karena baik untuk kesehatan. Peraih gelar master bidang Manajemen Internasional dan Mass Communication dari Pepperdine University, Los Angeles, California, dan Bond University, Australia ini akhirnya mengekspor beras organik bersertifikat hasil petani lokal ke Amerika Serikat.

Tahap awal pengiriman sebanyak 18 ton. Pengapalan ekspor beras organik perdana ini dilakukan pada Minggu (30/8/2009) melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Terpisah, Marketing and Communication Manager PT Delisari Nusantara, Muhammad Devit mengatakan konsep yang sudah dijalankan oleh Sunria sudah sejalan dengan visi dari Delisari.

Karena dalam memasarkan produk Sunria dan Delisari mengembangkan pasar yang ada di Indonesia.

“Konsep ini sejalan dengan visi kami untuk terus menyediakan produk bahan pangan berkualitas dan menyehatkan, dengan membeli produk-produk Sunria kita juga turut membantu meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia sekaligus tetap menjaga kesuburan tanah dan penyediaan bahan pangan yang berkesinambungan melalui pola tanam organiknya,” ujar Muhammad Devit.

Devit pun menambahkan, selisih produk sayur organik yang dipasarkan mungkin sedikit lebih mahal dengan sayuran lainnya.

“Namun bayangkan selisih harga semisal Rp 1.000 mungkin buat sebagian kita angka itu bukan angka yang besar, akan tetapi dengan angka tersebut kita bukan hanya membeli produk organik namun juga telah membantu para petani menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi, membangun rumah impian atau banyak kisah-kisah lain tentang meningkatnya kesejahteraan dengan sistem ini,” ujar Devit.

Sejak mulai bekerja sama dengan Sunria, Delisari telah mendistribusikan sekitar 18 ton produk dry Sunria yang terdiri dari beras organik, garam, gula aren juga vanilla bean melalui jalur distribusi kami dan 12 kantor cabang yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Untuk produk sayuran kami baru bisa memenuhi market pulau Jawa – Bali dengan jumlah pasokan sekitar 1 ton lebih perbulannya.

“Market ini yang akan terus kita kembangkan ke depannya mengingat potensi konsumsi produk organik yang juga meningkat di masa pandemi ini, ” ujar Devit. (Willy Widianto)

sumber : https://www.tribunnews.com/bisnis/2021/02/18/pertanian-organik-bisa-tingkatkan-kesejahteraan-hidup-petani?page=4