Lahan Gambut: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Ciri

Lahan Gambut: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Ciri

Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan yang dapat Anda temukan di Indonesia. Faktanya, luas tanah gambut di negara kepulauan ini termasuk yang terluas di antara negara lainnya. 

Keberadaan tanah gambut di dunia memegang peranan penting bagi kestabilan iklim karena kemampuannya dalam menyerap karbon. Untuk mengenal tanah gambut lebih jauh, mari simak pembahasannya berikut ini.

 

Pengertian Lahan Gambut

Tanah gambut terdiri dari dua kata, yaitu ‘lahan’ dan ‘gambut’. Kata ‘lahan’ sendiri mengandung pengertian berupa suatu wilayah berwujud daratan dengan karakteristik yang dapat membentuk lahan dan lingkungan sekitarnya, seperti hidrologi, geologi, hingga atmosfer.

Kemudian, kata ‘gambut’ mengandung pengertian sebagai penumpukan alami bahan-bahan organik seperti rumput, lumut, serta sisa tumbuhan, yang mengalami penguraian tidak sempurna dan terdapat pada kawasan pantai, rawa, hingga cekungan.  

Gambut terbentuk sebab penumpukan material organik pada suatu lahan jauh perbandingannya dengan proses penguraian material organik tersebut, sehingga dekomposisi atau penguraiannya tidak sempurna lalu mengalami pelapukan.

Dari pembahasan sebelumnya, maka Anda dapat menarik kesimpulan bahwa lahan gambut merupakan kawasan dengan lapisan tanah yang tersusun dari material organik dengan penguraian tidak sempurna, sehingga terakumulasi menjadi bahan gambut.

Tebal tanah gambut biasanya melebihi 50 sentimeter dengan kandungan karbon organik mencapai 18 persen. Tanah gambut dapat membentuk sebuah ekosistem, bernama ekosistem gambut, meliputi suatu kesatuan tanaman unsur gambut yang saling mempengaruhi.

 

Fungsi Lahan Gambut

Setelah membahas mengenai pengertian tanah gambut, Anda dapat memahami tentang fungsi dari tanah gambut bagi lingkungan sekitarnya. Berikut daftarnya:

  • Membantu Kestabilan Iklim 

Tanah gambut terdiri dari 3% cakupan wilayah dari seluruh area daratan yang ada di dunia. Jumlah tersebut cenderung terlihat kecil, bukan? Namun, tiga persen tanah gambut tersebut mampu menyerap karbon dalam jumlah besar.

Sebagai perbandingan, tanah gambut memiliki kemampuan penyerapan karbon sebesar 550 gigaton. Bila dalam satuan persen, maka jumlah karbon yang bisa diserap oleh tanah gambut di seluruh dunia adalah 30%.

Lalu, bagaimana dengan tanah gambut di Indonesia? Ternyata, tanah gambut Indonesia memiliki kemampuan penyerapan karbon hingga 57 gigaton. Jumlah tersebut 20 kali lebih tinggi dari kemampuan penyerapan karbon oleh hutan maupun jenis tanah lainnya.

  • Tempat Tinggal Aneka Ragam Hayati

Fungsi tanah gambut berikutnya adalah sebagai habitat alami dari keanekaragaman hayati yang ada. Cukup banyak hewan dan tumbuhan yang tinggal serta berkembang biak dalam suatu tanah gambut.

Anda bisa menemukan hewan seperti buaya, angsa sayap putih, macan Sumatra, sampai dengan beruang madu. Selain itu, beberapa contoh tumbuhan yang lestari di tanah gambut adalah pohon durian, pohon pulai, hingga pohon pala.

  • Menjaga Lingkungan dari Banjir 

Suatu tanah gambut dapat menampung air sebanyak 450% sampai dengan 850% dari bobot kering, yang kira-kira 90% dari volume airnya. Daya serap tanah gambut yang tinggi tersebut bermanfaat untuk menjaga lingkungan dari dampak buruk banjir serta kemarau.

Kemudian, apabila tanah gambut telah mengalami penguraian atau dekomposisi, maka kemampuan menahan airnya di lingkungan tersebut menjadi naik 2 sampai 6 kali lipat dari berat keringnya.

  • Meningkatkan Kondisi Perekonomian

Fungsi tanah gambut yang satu ini berkaitan dengan kesuburan lahan yang tinggi, sehingga bisa dijadikan tempat untuk membudidayakan tanaman semusim. Contoh tanaman semusim yang bisa dibudidayakan adalah padi, kedelai, jagung, hingga ubi kayu.

Tanaman tersebut sangat cocok untuk Anda pelihara di kawasan gambut dangkal dengan kesuburan yang tinggi serta memiliki risiko kerusakan yang kecil bagi lingkungan sekitar. 

Kemudian, Anda dapat membudidayakan tanaman tahunan juga di tanah gambut. Namun, dengan catatan tanah gambut memiliki ketebalan 3 meter atau lebih. Adapun contoh tumbuhan tahunannya adalah karet, kelapa, hingga kopi.

Tidak hanya tanaman saja, Anda dapat membudidayakan berbagai jenis ikan di suatu tanah gambut. Ikan seperti lele dumbo, patin siam, serta nila, adalah contoh ikan yang akan berkembang biak dengan baik di tanah gambut.

 

Jenis-jenis Lahan Gambut

Lahan Gambut: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Ciri

Tahukah Anda bahwa tanah gambut memiliki banyak jenis? Ternyata tanah gambut dapat terbagi menjadi berbagai kategori, yaitu:

  • Berdasarkan Ketebalan

Bila melihat ketebalan lahannya, maka tanah gambut dapat terbagi menjadi enam kategori sebagai berikut:

  • Sangat tipis, dengan ketebalan kurang dari 50 cm
  • Tipis, dengan ketebalan dari 50 cm hingga 100 cm
  • Sedang, dengan ketebalan dari 101 cm hingga 200 cm
  • Tebal, dengan ketebalan dari 201 cm hingga 400 cm
  • Sangat tebal, dengan ketebalan dari 401 cm hingga 800 cm
  • Tebal sekali, dengan ketebalan dari 801 cm hingga 1.200 cm

Ketebalan tersebut menunjukkan potensi tanah gambut untuk budidaya tanaman yang dapat dikonsumsi. Apabila suatu tanah gambut semakin tebal, maka lahan tersebut tidak bisa dijadikan lahan budidaya tanaman untuk pangan maupun hortikultura.

  • Berdasarkan Bahan Penyusun

Tanah gambut berdasarkan penyusunnya terbagi menjadi tiga kategori. Apa saja itu? Ketahui lewat daftar berikut:

  • Tanah Gambut Lumutan, atau Moss Peat

Lahan ini terdiri dari susunan campuran tanaman air yang berasal dari family Liliaceae, seperti lumut hingga plankton.

  • Tanah Gambut Seratan, atau Sedge Peat

Untuk tanah gambut satu ini merupakan susunan tanaman Sphagnum, seperti lumut sphagnum yang memiliki tekstur kasar dan biasanya terdapat di rawa air tawar.

  • Tanah Gambut Kayuan, atau Woody Peat

Susunan tanah gambut ini adalah pohon serta tanaman semak atau paku-pakuan yang terdapat di bawah lahannya.

  • Berdasarkan Fisiografi atau Lingkungan Pembentukan

Menurut lingkungan tempat tanah gambut terbentuk, terdapat empat kategori sebagai berikut:

  • Tanah Gambut Cekungan, atau Basin Peat

Jenis tanah gambut ini berada di cekungan, rawa belakang, serta lembah sungai.

  • Tanah Gambut Sungai, atau River Peat

Tanah gambut ini terbentuk di lingkungan sungai yang memasuki kurang dari 1 kilometer daerah lembah. Nama lainnya adalah tanah gambut pedalaman, yang mana contohnya adalah Sungai Kapuas di Kalimantan Tengah.

  • Tanah Gambut Dataran Tinggi, atau Highland Peat

Lingkungan pembentukan tanah gambut ini adalah di punggung bukit maupun pegunungan. Contohnya adalah Pegunungan Dieng di Jawa Tengah.

  • Tanah Gambut Pantai, atau Coastal Peat

Tanah gambut jenis ini berada di pesisir atau sepanjang pantai.

  • Berdasarkan Proses Pembentukan

Terdapat tiga kelompok tanah gambut berdasarkan proses pembentukannya. Berikut adalah daftarnya:

  • Tanah Gambut Ombrogen

Tanah gambut satu ini sangat dipengaruhi oleh curah hujan. Ketebalan lapisan lahan bisa mencapai 20 meter, dengan permukaan tanah lebih tinggi dibandingkan permukaan sungai.

Kesuburan tanah gambut ombrogen tidak tinggi sebab lapisan lahan hanya berasal dari gambut dan air hujan, sehingga unsur hara terbatas.

Air yang mengalir di tanah gambut ombrogen memiliki pH cukup tinggi, antara 3,0 sampai 4,5, yang artinya terdapat asam humus yang banyak. Warna lahan coklat kehitaman, menyerupai warna teh pekat.

  • Tanah Gambut Topogen

Proses pembentukan tanah gambut ini faktor pengaruhnya adalah cekungan serta air tanah, seperti genangan air pada tanah cekung di pegunungan atau belakang pantai yang tersumbat saluran pembuangannya.

Ketebalan lahan ini mencapai 4 meter, dengan keasaman air yang relatif rendah. Lalu, gambut topogen cenderung subur karena ada unsur hara dari tanah mengandung mineral di air sungai, air hujan, maupun dasar cekungan.

  • Tanah Gambut Pegunungan

Untuk yang satu ini, proses pembentukannya dipengaruhi gunung maupun bukit. Kesuburan tanah gambut pegunungan lebih tinggi daripada tanah gambut topogen.

  • Berdasarkan Kesuburan

Apabila dilihat khusus dari tingkat kesuburannya, maka lahan gambut terbagi menjadi tiga. Berikut adalah masing-masing penjelasannya:

  • Eutrofik

Tanah gambut jenis ini mengandung mineral, basa, serta zat hara yang tinggi. Lapisannya cenderung tipis, lalu kesuburannya diperoleh dari air sungai maupun air laut.

  • Mesotrofik 

tanah gambut jenis mesotrofik memiliki kandungan basa hingga mineral  sedang yang mempunyai tingkat kesuburan lumatan

  • Oligotrofik

Untuk jenis lahan ini, kesuburannya paling rendah karena kandungan mineral serta basa sedikit. Lahan oligotrofik biasanya memiliki kubah gambut yang tebal, serta tidak dipengaruhi oleh air sungai maupun air laut.

  • Berdasarkan Kematangan

Tanah gambut bila dilihat dari tingkat kematangan atau dekomposisi bahan organiknya terbagi menjadi tiga kategori, yakni:

  • Saprik (Matang)

Jenis tanah gambut saprik sudah mengalami pelapukan serta tidak bisa diketahui dari bahan sumbernya. Ciri tanah gambut saprik yaitu warnanya cokelat tua kehitaman. Selain itu, bila tanah diremas maka kandungan serat dalam tanah di bawah 15%.

  • Hemik (Setengah Matang)

Tanah gambut jenis hermik mengalami sebagian dekomposisi atau separuh melapuk. Warna lahan kecokelatan dan masih bisa diketahui bahan sumbernya. Kandungan serat lahan hemrik mulai dari 15% hingga 75%.

  • Fibrik (Belum Matang atau Mentah)

Jenis tanah fibrik belum melalui dekomposisi atau pelapukan, jadi bisa diketahui bahan sumbernya. Tanah berwarna cokelat muda, dengan kandungan serat lebih dari 75%.

 

Ciri-ciri Lahan Gambut

Lahan Gambut: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Ciri

Untuk membedakan tanah gambut dengan tanah lainnya, Anda dapat melihat ciri-cirinya berdasarkan fisik tanah maupun ciri kimia tanah.

  • Berdasarkan Fisik

Bila dilihat dari fisiknya, maka tanah gambut memiliki kadar air mulai dari 100% hingga 1300% dari berat keringnya. Kandungan air pada gambut yang cukup tinggi menjadi penyebab gambut tidak begitu padat.

Itulah mengapa kawasan gambut tidak bisa menahan beban cukup baik, karena sifatnya yang lembek atau lunak. Kepadatan tanah gambut berbeda berdasarkan dekomposisi tanahnya. 

Kemudian, volume tanah gambut akan menyusut bila terdapat drainase sehingga permukaan tanah ikut menurun. Erosi hingga proses penguraian tanah pun ikut mempengaruhi permukaan pada tanah gambut.

Selain itu, tanah gambut akan gagal melakukan penyerapan air apabila kadar air tanah telah menurun kurang dari 100%. Bila sudah seperti itu, maka tanah gambut rentan terbakar karena kondisinya yang kering.

  • Berdasarkan Kimia

Tanah gambut memiliki kandungan mineral yang berbeda tergantung penyusunnya. Biasanya, tanah gambut Indonesia mengandung mineral sebanyak 5% lalu yang lainnya adalah bahan organik. Lalu, kadar pH tanah gambut berkisar dari 3 hingga 5, yang berarti asamnya tinggi.

Demikian pengertian, fungsi, jenis, serta ciri-ciri lahan gambut yang bermanfaat bagi Anda. Salah satu fungsi lahan gambut bagi lingkungan sekitar adalah menunjang perekonomian, sehingga penting untuk melaksanakan pengelolaan yang berkelanjutan bagi pelaku usaha di dalamnya.

Itulah mengapa Anda membutuhkan sertifikasi untuk memastikan praktik usaha sesuai dengan standar keberlanjutan atau sustainability, sehingga fungsi gambut dalam kestabilan iklim tetap lestari.

Oleh karena itu, buat pengajuan sertifikasi di MUTU International yang merupakan perusahaan terpercaya sejak 1990. Terdapat sertifikasi Industri Hijau yang mendukung konsep keberlanjutan agar kegiatan perekonomian tetap mendukung kelestarian lingkungan.

PT Mutuagung Lestari Tbk atau Mutu International merupakan perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1990. Kami melayani berbagai jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi untuk berbagai macam industri. Tim ahli kami yang didukung oleh pengalaman selama lebih dari 30 tahun, bekerja untuk mengidentifikasi masalah dan menyarankan solusi yang sesuai, guna meningkatkan kinerja perusahaan Anda secara efektif dan efisien.

MUTU menyediakan jasa sertifikasi untuk berbagai sektor, yaitu sektor Pertanian (Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dan lain-lain, Industri Jasa Publik (sistem manajemen mutu, sistem manajemen lingkungan, sistem manajemen keamanan informasi, dan lain-lain), Pangan (Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP)), sistem manajemen keamanan pangan, pangan organic, dan lain-lain), Ekonomi Hijau (sertifikasi gas rumah kaca, ISCC, dan lain-lain), Kehutanan (Forest Stewardship Council (FSC)), pengelolaan hutan produksi lestari, dan lain-lain) dan Produk Kehutanan (Ekolabel, Japanese Agricultural Standard (JAS), dan lain-lain).

Sejak berdirinya bergerak dibidang sertifikasi kehutanan dan industri yang telah memperoleh akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN), Badan Standarisasi Nasional (BSN), Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), dan lembaga akreditasi mancanegara lainnya.Untuk melakukan pengurusan sertifikasi ISPO, Anda bisa menghubungi MUTU International.

Silahkan hubungi MUTU International melalui E-Mail: [email protected], Telepon: (62-21) 8740202 atau kolom Chat box yang tersedia. Hubungi MUTU International sekarang juga. Follow juga seluruh akun sosial media MUTU International di Instagram, Facebook, Linkedin, Tiktok, Twitter, Youtube dan Podcast #AyoMelekMUTU untuk update informasi menarik lainnya.