Penyelia Halal: Inilah Tanggung Jawab dan Tugas

Penyelia Halal: Inilah Tanggung Jawab dan Tugas

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga makanan halal adalah kebutuhan penting bagi masyarakatnya. Maka dari itu, dibutuhkan penyelia halal untuk menjalankan proses sertifikasi produk halal di berbagai sektor usaha.

Sebenarnya, apa saja tanggung jawab dan tugas dari penyelia halal? Lalu, jika ingin menjadi penyelia halal, apa yang harus dilakukan? Baca penjelasan pada artikel berikut hingga tuntas untuk lebih mengenal tentang penyelia halal!

 

Penyelia Halal adalah Pemegang Peran Penting

Sebelum membahas tentang tugas dan tanggung jawab dari penyelia halal, maka akan dibahas terlebih dahulu tentang siapa yang dimaksud dengan penyelia halal.

Seperti yang sudah sedikit disinggung sebelumnya, penyelia halal adalah orang yang mempunyai peran penting ketika sebuah produk akan menjalankan sertifikasi halal. Jika sudah dianggap layak mendapatkan sertifikat halal, maka perusahaan memiliki hak untuk memberikan label halal di bagian kemasan produk.

Dengan adanya sertifikat halal tersebut, maka konsumen dapat memastikan bahwa produk tersebut sudah dinyatakan halal dan aman dikonsumsi untuk orang beragama Islam.

Karena sangat terlibat dalam proses sertifikasi halal, maka keberadaan penyelia halal adalah sangat vital bagi berbagai perusahaan. Melalui penyelia tersebut, maka berbagai proses akan diawasi dengan baik sehingga tidak ada kendala ketika akan melakukan sertifikasi.

Lebih baik lagi, jika setiap pelaku usaha memiliki penyelia halal, khususnya untuk usaha yang membutuhkan label sertifikat halal untuk setiap jenis produknya.

Perlu dipahami bahwa bagi umat beragama Islam, prinsip halal adalah dasar baku yang perlu dilakukan. Hal tersebut tercermin dalam semua kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pemilihan produk makanan, minuman, serta kosmetik atau produk kecantikan.

 

Tugas Penyelia Halal

Penyelia halal memiliki berbagai tugas yang perlu dilakukan dalam mendukung terlaksananya proses sertifikasi halal. Berikut merupakan penjelasan tentang tugas-tugas penyelia halal yang sebaiknya Anda ketahui.

1. Menentukan Kehalalan dari Bahan Baku serta Tambahannya

Tugas pertama yang pastinya perlu dilakukan yaitu menentukan apakah bahan baku dan berbagai bahan lainnya dalam suatu produk sudah sesuai dengan standar dan syarat halal.

Dalam tugas ini, hal penting yang perlu dilakukan oleh penyelia halal adalah memeriksa sertifikat halal dari berbagai bahan baku pemasok yang nantinya digunakan. Selain dilihat dari sertifikasinya, bisa juga dilihat dengan cara memeriksa bahan-bahan tersebut secara langsung.

2. Memastikan Produk telah Memenuhi Semua Syarat Halal

Tugas kedua dari penyelia halal adalah memastikan bahwa suatu atau berbagai produk telah memenuhi semua persyaratan halal.

Berbagai hal perlu dipastikan dalam syarat halal tersebut, misalnya tentang penggunaan bahan dan berbagai zat aditifnya, penanganan bahan, dan tata cara pengelolaan produk halal.

Jika membahas tentang produk halal, maka tidak hanya bicara tentang berbagai bahan yang digunakan saja. Proses dan prosedur dari produksinya pun perlu diperhatikan, misalnya pemakaian berbagai jenis alat dan mesin produksi.

Perlu diketahui bahwa produk halal adalah produk yang seluruh bahan dan prosesnya dilakukan dengan halal. Maka dari itu, segala aspek produksi perlu diperhatikan dengan baik.

3. Menentukan Tindakan Perbaikan Jika Ada Masalah

Selanjutnya, pihak penyelia juga perlu menentukan tindakan perbaikan jika diperlukan. Misalnya, ketika ada masalah terhadap produk tertentu, maka pihak penyelia akan menilai masalah tersebut supaya dapat mencari dan menentukan tindakan apa yang selanjutnya perlu dilakukan.

Selain itu, penyelia halal juga perlu mencegah berbagai masalah yang mungkin timbul terkait kehalalan suatu produk.

4. Melakukan Pengawasan terhadap Audit dan Sertifikasi

Tugas berikutnya dari penyelia halal adalah melakukan pengawasan terhadap audit dan proses sertifikasi. Seluruh prosesnya perlu dipantau dengan baik, termasuk melakukan pengawasan terhadap tim auditor yang bertugas.

Penting untuk dipastikan bahwa seluruh prosedur dan syarat halal telah terpenuhi, sehingga produk tersebut layak untuk mendapat sertifikat halal.

5. Meningkatkan Pemahaman dan Kesadaran tentang Prinsip Halal

Untuk memproduksi berbagai jenis produk halal, maka dibutuhkan informasi dan pengetahuan yang cukup tentang prinsip halal. Jika membuat produk halal adalah kewajiban dari suatu perusahaan, maka seluruh karyawannya perlu memahami tentang semua syarat dan prinsip halal.

Penyelia halal memiliki tugas penting untuk mendukung terlaksananya hal tersebut, harus dipastikan bahwa para karyawan sudah paham betul tentang halal.

Umumnya, dilakukan berbagai edukasi dan pelatihan tentang hal tersebut, sehingga karyawan dapat memahami prinsip halal serta cara untuk menerapkan prinsip tersebut dalam keseluruhan proses produksi.

6. Menjaga Kepercayaan Konsumen

Tuga penting lainnya bagi penyelia halal adalah untuk menjaga kepercayaan konsumen, khususnya para konsumen muslim yang perlu mengonsumsi atau memakai produk halal.

Tingkat kepercayaan dan integritas konsumen tentu saja tidak boleh diabaikan oleh perusahaan, sehingga penyelia halal bertugas untuk menjaganya.

Maka dari itu, berbagai jenis produk perlu dipastikan telah memenuhi semua persyaratan halal. Selanjutnya, konsumen pun akan merasa aman untuk mengonsumsinya, tidak perlu lagi mempertanyakan hal-hal terkait kehalalan produk.

 

Tanggung Jawab Penyelia Halal

Penyelia Halal: Inilah Tanggung Jawab dan Tugas

Selain berbagai tugas penting yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, penyelia halal juga memiliki tanggung jawab penting dalam proses memastikan kehalalan dari suatu atau berbagai produk.

Di bawah ini merupakan berbagai tanggung jawab yang perlu dilakukan oleh penyelia halal, supaya produk dapat dipastikan halal dan nantinya tidak ada masalah jika akan melakukan sertifikasi halal.

1. Menerapkan Seluruh Ketentuan tentang JPH

Tanggung jawab penting dari penyelia halal adalah menerapkan keseluruhan dari ketentuan atau aturan perundang-undangan yang berlaku terkait JPH atau Jaminan Produk Halal.

Dalam hal ini, peraturan yang terkait yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2021. Di dalam peraturan tersebut, mencangkup aturan tentang penyelia halal, auditor halal, serta pelaksanaan sertifikasi halal.

2. Melakukan Penerapan Sistem JPH

Selanjutnya, untuk penyelia halal juga memiliki tanggung jawab dalam menerapkan semua sistem JPH di perusahaan. Dengan melakukan penerapan yang sesuai, maka berbagai produk yang dihasilkan pun dapat terjamin kualitas halalnya. Selanjutnya, konsumen juga merasa aman, khususnya untuk konsumen yang beragama Islam.

3. Menyusun Berbagai Rencana PPH

PPH atau Pengawasan Produk Halal adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menjamin kehalalan produk

Penyelia halal memiliki tanggung jawab untuk menyusun rencana PPH, sesuai dengan kondisi perusahaan dan produk yang dibuat.

Dalam rencana tersebut, ada berbagai kegiatan yang perlu direncanakan, yaitu penyediaan bahan baku dan bahan tambahan lainnya, pengolahan bahan menjadi produk jadi yang siap dijual, pengemasan, penjualan, penyajian, hingga penyimpanan produk.

Karena produk halal adalah terkait dengan bahan serta keseluruhan proses pembuatan, maka perencanaan PPH pun perlu dilakukan secara matang.

4. Menerapkan Manajemen Risiko

Selanjutnya, dalam melakukan pengawasan atau PPH, penyelia halal juga harus melakukan manajemen risiko.

Secara umum, manajemen risiko dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan dalam manajemen dan meminimalisir risiko. Dalam hal ini, maka risiko yang dimaksud yaitu berkaitan dengan keseluruhan kegiatan produksi dari berbagai jenis produk.

Manajemen risiko ini dapat meminimalisir berbagai hal yang tidak diinginkan terkait kehalalan produk.

5. Mengusulkan Penggantian jika Ada Bahan yang Dinilai Tidak Halal

Tanggung jawab penyelia halal berikutnya yaitu dapat mengusulkan penggantian bahan apabila ternyata terdapat bahan yang dinilai tidak halal. Pengusulan tersebut dapat diajukan kepada pihak perusahaan.

Namun, perlu diperhatikan bahwa usulan tersebut perlu didasarkan dengan bukti yang akurat. Umumnya, didasari dari fakta dan data yang telah dikumpulkan oleh penyelia halal, sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu atau beberapa bahan tersebut tidak halal.

Selanjutnya, dibutuhkan penggantian bahan dari yang tidak halal menjadi bahan yang sudah dapat dipastikan kehalalannya. Perlu dilakukan pengecekan yang benar dalam hal ini, misalnya dari sertifikat halal yang dimiliki atau dengan melakukan pengecekan secara langsung.

6. Mengusulkan Penghentian Produksi

Selain penggantian bahan, penyelia halal juga dapat mengajukan usul untuk pemberhentian produksi jika ada produk yang telah dinilai tidak sesuai dengan ketentuan dari PPH.

Maka dari itu, penyelia halal perlu melakukan berbagai pemantauan secara langsung terkait kegiatan produksi. Pemantauan tersebut umumnya dilakukan secara berkala, sehingga dapat dijamin dengan baik kegiatan tersebut telah sesuai ketentuan.

7. Membuat Laporan terkait PPH

Setelah melakukan berbagai jenis pengawasan dan pemantauan terkait berbagai hal, maka hasil PPH tersebut perlu dibuat dalam bentuk laporan. Inilah tugas selanjutnya dari penyelia halal, yaitu membuat laporan PPH.

Laporan ini menjadi sangat penting, terlebih jika suatu saat akan dilakukan audit tentang kehalalan produk. Laporan ini juga menjadi bukti secara tertulis tentang keseluruhan dari bahan dan proses produksi, sehingga dapat digunakan untuk berbagai hal apabila diperlukan.

8. Melakukan Pengkajian Ulang

Tanggung jawab berikutnya yaitu melakukan pengkajian ulang setelah berbagai proses pengawasan dan pemantauan. Penyelia halal perlu melakukan pengkajian ini supaya dapat mengetahui keseluruhan proses produksi telah sesuai dengan ketentuan halal atau belum.

Pengkajian ulang ini juga memiliki fungsi untuk mengetahui apakah ada masalah dalam proses produksi atau tidak. Jika ternyata ada, maka hal tersebut perlu segera diselesaikan.

Salah satu contoh masalah yang mungkin terjadi yaitu jika ternyata ada bahan yang dinilai tidak halal, sehingga perlu dilakukan penggantian bahan, seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

9. Menyiapkan Sampel dan Bahan untuk Auditor

Jika ingin melakukan sertifikasi halal, maka diperlukan proses audit terkait berbagai hal di dalam proses produksi, termasuk tentang bahan-bahannya. Pihak yang berwenang untuk melakukan audit tersebut yaitu auditor halal.

Untuk dapat melakukan audit, maka perlu ada sampel dan bahan supaya untuk pengecekan. Penyelia halal bertanggung jawab untuk menyiapkan hal tersebut, sehingga nantinya akan mudah untuk diserahkan kepada auditor.

10. Menunjukkan Berbagai Bukti yang Diperlukan ketika Audit

Ketika sedang melakukan audit, berbagai hal perlu dicek secara menyeluruh. Untuk mendukung pelaksanaan pengecekan tersebut, maka penyelia halal perlu menyiapkan dan menunjukkan berbagai bukti yang diperlukan.

Bukti ini salah satunya dapat berupa laporan PPH yang sebelumnya sudah dibahas. Berdasarkan laporan tersebut, maka auditor dapat memberikan penilaian. Penyelia halal dapat berperan aktif dalam hal ini, karena dia merupakan pihak yang dapat menjelaskan lebih detail terkait pembuatan produk tersebut.

Itulah berbagai penjelasan terkait penyelia halal, mulai dari pengertian, tugas, hingga tanggung jawab yang dimiliki. Pihak penyelia halal memang penting untuk dimiliki oleh setiap pelaku usaha atau bisnis, terlebih yang produknya membutuhkan sertifikasi halal.

Maka dari itu, jika Anda memiliki usaha atau bisnis, memiliki penyelia halal adalah jalan terbaik untuk memudahkan berbagai proses mendapat label halal. Untuk dapat menjadi penyelia halal, MUTU International siap membantu Anda! Segera lakukan pelatihan dan pastikan Anda mendapat sertifikasi sebagai penyelia halal!

PT Mutuagung Lestari Tbk atau Mutu International merupakan perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1990. Kami melayani berbagai jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi untuk berbagai macam industri. Tim ahli kami yang didukung oleh pengalaman selama lebih dari 30 tahun, bekerja untuk mengidentifikasi masalah dan menyarankan solusi yang sesuai, guna meningkatkan kinerja perusahaan Anda secara efektif dan efisien.

MUTU menyediakan jasa sertifikasi untuk berbagai sektor, yaitu sektor Pertanian (Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dan lain-lain, Industri Jasa Publik (sistem manajemen mutu, sistem manajemen lingkungan, sistem manajemen keamanan informasi, dan lain-lain), Pangan (Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP)), sistem manajemen keamanan pangan, pangan organic, dan lain-lain), Ekonomi Hijau (sertifikasi gas rumah kaca, ISCC, dan lain-lain), Kehutanan (Forest Stewardship Council (FSC)), pengelolaan hutan produksi lestari, dan lain-lain) dan Produk Kehutanan (Ekolabel, Japanese Agricultural Standard (JAS), dan lain-lain).

Sejak berdirinya bergerak dibidang sertifikasi kehutanan dan industri yang telah memperoleh akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN), Badan Standarisasi Nasional (BSN), Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), dan lembaga akreditasi mancanegara lainnya.Untuk melakukan pengurusan sertifikasi ISPO, Anda bisa menghubungi MUTU International.

Silahkan hubungi MUTU International melalui E-Mail: [email protected], Telepon: (62-21) 8740202 atau kolom Chat box yang tersedia. Hubungi MUTU International sekarang juga. Follow juga seluruh akun sosial media MUTU International di Instagram, Facebook, Linkedin, Tiktok, Twitter , Youtube dan Podcast #AyoMelekMUTU untuk update informasi menarik lainnya.